Jumat, 13 April 2012

"BAPA ajarku pahami rencana mulia ...
BAPA inginkan aku menjadi rancangan semula ...
Walaupun itu mustahil dengan kekuatanku ...
Tapi tiada yang mustahil apapun bagiMU."

 

 ~ ANTARA JANJI DAN BUKTI ~

    Baca Firman TUHAN: Yohanes 21:15-19

    Menurut saudara, mengapa Yesus bertanya kepada Petrus: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Bukankah apabila kita baca dalam Alkitab, tanpa diragukan, bahwa Petrus adalah seorang murid beriman yang sangat mengasihi Yesus? Di Kaisaria Filipi, bukankah dia yang mewakili para murid lainnya mengungkapkan pernyataan bersejarah bahwa Yesus itu adalah “Anak Allah yang hidup”? (Matius 16:16). Ketika Perjamuan malam sebelum Yesus ditangkap, bukankah Petrus pula satu-satunya murid yang berikrar kepada Yesus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau? (Lukas 22:23). Tidak kurang di taman Getsemai, bukankah dia juga satu-satunya murid yang mebuktikan kasihnya kepada Yesus, yang dengan gagah berani menetakkan telinga seorang hamba Imam Besar dengan pedangnya, ketika peristiwa penangkapan Yesus?

    Saudara, bukankah dari semua yang ia ucapkan dan lakukan itu menunjukkan bahwa Petrus sangat mengasihi Yesus? Apakah yang masih dianggap kurang pada diri Petrus? Adakah yang salah dalam penghayatan iman dan kasihnya kepadaYesus? Dan kenapa ia mesti ditanya tentang sesuatu yang malah sudah ia buktikan, bahkan pertanyaan yang sama sampai diulang tiga kali oleh Yesus? Saudara, secara kebiasaan, apabila kita menanyakan seseorang untuk meminta pernyataannya lebih dari satu kali atau berulang-ulang, boleh jadi bahwa sebenarnya kita masih menyangsikan pernyataan orang tersebut. Atau mungkin pula kita menginginkan suatu pernyataan yang sungguh-sungguh sehingga dapat dipertanggungjawabkan dari orang yang kita tanya.

    Saudara, pertanyaan Yesus ini pasti menunjukkan ada yang salah dalam penghayatan iman dan kasih Petrus. Andaikata tidak ada yang kurang atau salah pada iman dan kasih Petrus, Yesus pasti tidak bertanya dan memberikan tantangan: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” . Lalu apa yang salah atau kurang dalam penghayatan iman dan kasih Petrus itu? Nah, disinilah letak persoalannya! Saudara, benar bahwa Petrus mengasihi Yesus, tapi apa yang ia nyatakan atau lakukan bagi Yesus itu adalah didasarkan pada motivasi yang salah! Artinya, bahwa apa yang dilakukan oleh Petrus bukanlah dalam pengabdian kasih yang sesungguhnya. Ia mau berbuat dan bertindak, tetapi juga diiringi harapan agar nama juga ikut besar dan popoler.

    Karena itu tidak heran bila Petrus melakukan semuanya kadang-kadang disertai sikap penonjolan diri, ingin menjadi selalu yang utama, sok tahu, sok pahlawan. Tidak jarang pula dibumbui sikap kesombongan dan kecongkakaan yang berbuahkan ketakaburan. Menurut Alkitab, bahwa sikap congkak adalah dosa dan pasti menerima hukuman Tuhan: “Sebab Tuhan semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan.” (Yesaya 2:12). Di dalam Alkitab juga dikatakan: “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” (Amsal 16:18).

    Pernyataan Alkitab ini terbukti saudara, sebab bukankah sikap seperti ini yang menghantarkan Petrus kepada pengkhianatan? Pertanyaan Yesus ini sebenarnya adalah suatu tantangan dalam rangka pembaharuan iman dan kasih Petrus supaya diletakkan pada dasar motivasi yang benar. Saudara, soal motivasi itu sangat penting dan menentukan! Sebaik danb sebesar apa pun yang dilakukan orang bila tyanpa dilandasi motivasi yang benar tentulah sia-sia dan percuma! Bila kita teliti dengan cermat, kita dapat melihat dengan jelas motivasi yang salah dari Petrus dalam menyatakan kasihnya kepada Yesus.

    Pertama: Kasih yang dilandasi sikap “pamrih”.

    Sikap pamrih adalah suatu sikap dimana orang mau berbuat, dan dibalik apa yang diperbuatnya dianggap mendatangkan keuntungan. Itulah juga motivasi Petrus mengasihi Yesus. Benar bahwa Petyrus berikrar: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau.” (Lukas 22:33). Tetapi ucapan itu dinyatakannya setelah murid-murid bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Setelah Yesus memperbincangkan soal kerajaan dan tahta, tentang siapa yang akan menghakimi ke-12 suku Israel dan tentang siapa yang akan duduk makan semeja dengan Yesus nantinya (Lukas 22:24-33). Sebab itu saudara, orang yang memiliki sikap pamruh tidak mungkin mau berkorban apalagi sampai menanggung resiko. Apabila situasi menguntungkan, sebesar apa pun pengorbanan itu pasti akan dilakukan. Tetapi sekiranya situasi tidak menguntungkan, sekecil apa pun itu pasti sulit dilakukan.

    Perhatikan sikap Petrus. Dalam situasi yang menguntungkan dapat saja ia berjanji setia kepada Yesus: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama dengan Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” (Matius 26:35). Tetapi ketika menghadapi situasi yang sulit dan tidak menguntungkan, bukankah dari mulut yang sama terlontar kata-kata penyangkalan? Sikap pamrih memang penuh dengan pertimbangan. Ya, pertimbangan untung rugi tentu saja! Sebab itu tidak heran apabila segala waktu, tenaga, pengorbanan atau juga uang segala macam sulit diberikan, walaqu itu untuk gereja atau untuk Tuhan sekali pun.

    Kedua: Kasih yang didasarkan pada ukuran “prestise”

    Saudara, kasih yang didasarkan pada prestise adalah suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan hanya demi gengsi, martabat atau hanya demi mendapatkan nama baik dan kehormatan pribadi. Apabila kita membaca dakam Alkitab, ini juga motivasi Petrus kepada Yesus. Dari data pribadi Petrus terlihat dengan jelas suatu sikap penonjolan diri, ingin menjadi selalu menjadi yang utama. Dari nada bicaranya terdapat kesan kesombongan. Sebagai contoh, dalam ucapannya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” (Matius 26:33).

    Lalu bagaimana ketika tantangan yang sesungguhnya benar-benar tiba? Nah…nah…nah… kita semua pun tahu dari catatan sikap Petrus dalam Alkitab di sekitar peristiwa penyaliban Yesus. Semua orang Kristen pun tahu itu! (Matius 26:69-74; Markus 14:66-72; Lukas 22:56-62; Yohanes 18:15-18, 25-27). Ya, ternyata Petrus tak mampu membuktikan imannya kepada Yesus. Hanya gara-gara tanya sederhana dari si tua renta kepada Petrus dalam situasi yang agak terjepit di tengah orang banyak. Tapi toh pun demikian, Petrus yang penuh dengan cacat dan kekurangan, tetap saja diterima oleh kasih dari Yesus yang terulur membentang…..

    “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?”. Bagai rembulan tertusuk ilalang, pertanyaan itu membentang jalang! Bahwa kenyataannya kasih Petrus yang selama ini dilakukan belumlah merupakan kasih yang sebenarnya! Artinya, bahwa kasih yang selama ini Petrus lakukan belumlah benar-benar mengasihi Yesus, tetapiu kurang lebih suatu sikap penonjolan diri semata. Ya, pertanyaan yang menantang untuk dijawab dengan pembaharuan iman dan kasih!

    “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”. Sekarang Yesus semakin memperlunak pertanyaan-Nya (tanpa tambahan kalimat “lebih daripada mereka ini?”). Seolah alam pun ikut muram, pertanyaan kedua menyesak dada! Betapa tidak, suatu pertanyaan halus tapi juga menyengat rasa! Menyadarkan Petrus bahwa kasih yang benar kepada Yesus itu haruslah dimulai dari kerendahan hati, bukan keakuan dan kesombongan diri seperti yang pernah terjadi!

    “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”. Laksana bumi gemetar menahan kedahsyatan kawah api, seluruh jiwa raga menatang pertanyaan ketiga! Ya, pertanyan yang meminta kejujuran untuk menyadarkan Petrus, bahwa iman dan kasih yang benar itu haruslah iman dan kasih yang dapat dipertanggungjawabkan. Bukan hanya sebatan janji ucapan! Bahwa iman dan kasih yang benar kepada Yesus itu adalah soal tanggung jawab dan harus berani menerima segala konsekwensinya!

    Saudara, pertanyaan-pertanyaan Yesus ini adalah dalam rangka pemugaran iman dan kasih, untuk meluruskan motivasi Petrus yang keliru selama ini. Membaharui iman dan kasih Petrus yang masih dianggap kurang mapan! Pertanyaan-pertanyaan Yesus ini saudara, bak sembilu menusuk dada, untuk melahirkan kesadaran penuh, untuk menangisi nanah penyangkalan yang pernah dilakukan. Untuk menyesali dan mau membaharui diri dari kejatuhank yang sudah terjadi. Ya, pertanyaan menyala pemberi uapaya, supaya bangkit membangun kembali kisah kasih sejati dalam tekat baru kerendahan hati: “Tuhan, Engkau tahu segala selsuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” (ayat 17c).

    Saudara, inilah sikap Petrus yang baru. Sikap yang terpuji. Sikap yang perlu kita teladani! Ya, sikap yang berani membaharui diri dan vtidak akan pernah berhenti lagi untuk mengasihi Yesus. Inilah sikap yang baru yang seharusnya dimiliki oleh setiap kita yang mengaku-aku percaya kepada Yesus. Ya, janji dan bukti harus sejalan. Karena memang itulah yang paling menentukan! Amin.

    TUHAN YESUS Memberkati Anda...

Kamis, 12 April 2012

"BAPA ajarku pahami rencana mulia ...
BAPA inginkan aku menjadi rancangan semula ...
Walaupun itu mustahil dengan kekuatanku ...
Tapi tiada yang mustahil apapun bagiMU."

 
TUHAN TIDAK BERUBAH???
(Bacaan Alkitab : Yunus 3:1-10)

“…maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya
terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya.” (Yunus 3:10b).


 Di dunia ini, semua berubah. Hanya satu yang tidak berubah, yakni Tuhan. Demikianlah kata-kata yang sering saya dengar. Ada seorang Bapak gerejawi yang bernama Thomas Aquinas, yang hidup pada tahun 1225-1274, meyakini bahwa salah satu sifat yang dimiliki oleh Tuhan adalah immutabilis, yang berarti Tuhan tidak berubah. Sifat ini sangat erat kaitannya dengan sifat kemaha-tahuan Tuhan. Allah yang Mahatahu, pastilah tidak akan berubah, sebab berubah selalu mengandaikan ketidak-tahuan.

Yunus menyerukan berita penghukuman kepada Niniwe. Empat puluh hari lagi kota Niniwe akan ditunggang-balikkan oleh Allah. Yunus tampaknya sangat yakin, rencana Allah untuk menghukum kota Niniwe pasti tidak akan berubah. Tetapi ternyata Allah malah mengubah rencana-Nya. Allah mengubah rencana-Nya ketika melihat raja dan rakyat Niniwe bertobat dari tingkah-laku yang jahat dan dari kekerasan hati mereka. Bahkan timbul penyesalan Allah atas rencana penghukuman Niniwe yang disampaikan sebelumnya.

Saya punya keyakinan bahwa Allah bisa berubah. Allah adalah sosok yang responsive terhadap dinamika umat-Nya. Di satu sisi, ini adalah anugerah bagi umat manusia, karena tidak ada kata terlambat untuk berbalik dari hidup yang lama, kembali ke dalam jalan Tuhan. Di sisi lain, kita bisa melihat Allah sesungguhnya lebih senang mencintai umat-Nya daripada menghukumnya. Allah bias berubah, penduduk Niniwe bisa berubah. Kesabaran Allah yang sesungguhnya memungkinkan Dia untuk berubah. Namun untuk setiap ketetapan-Nya, perintah-Nya, hukum-Nya,  karakter-Nya, dan semua janji-Nya untuk kebaikan kita, Dia tidak akan pernah berubah seperti yang tertulis dalam Maleakhi 3:6 –“Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.”


 TUHAN MEMBERKATI...

 Keputusan Allah dapat berubah dalam hal kebaikan dan akan memberikan
pengampunan kepada kita, hanya jika kita bertobat dan kembali
ke jalan-Nya. (Samuel Sadusi)
RESIKO IMAN
 
(Bacaan Alkitab : Markus 14:32-42)

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh kedalam pencobaan;
roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Markus 14:38)



Apakah mengikut Yesus itu hal yang mudah, ataukah perkara yang penuh resiko? Gampangkah, atau ada “harga” yang mesti dibayar oleh para pengikut-Nya? Dietrich Bonhoeffer adalah seorang pendeta dan teolog Jerman yang terkenal dan hidupnya telah menjadi teladan bagi orang percaya. Ia hidup semasa rezim Hitler di Jerman. Melalui Khotbah, surat-surat dan tulisan-tulisannya, ia menentang pemerintahan Hitler. Ia pernah dipenjara selama 3 tahun, namun itu tidak membuat sikap dan pendiriannya kepada Kristus berubah. Sampai akhirnya ia dihukum mati oleh rezim Hitler.

Petrus, Yakobus dan Yohanes, rupanya tidak sabar ketika diminta Yesus berjaga-jaga dan berdoa di malam itu. Tiga kali Yesus menemui mereka, tiga kali pula mereka kedapatan tertidur. Tampak jelas mereka bertiga tidak bisa melakukan perintah Yesus bahkan untuk sekadar berjaga-jaga dan berdoa. Mereka tidak bisa mengalahkan keinginan daging mereka, walau barangkali hati mereka ingin sekali melaksanakan perintah Yesus tersebut. Memang, mengikuti Yesus menbutuhkan kesabaran dan kesadaran akan resiko/konsekuensi yang akan dihadapi.

Saudaraku, ada banyak orang yang beranggapan bahwa begitu mengikuti Yesus, ia akan bebas dari resiko-resiko kehidupan ini. Ia tidak lagi bisa sakit, bisnisnya akan selalu sukses, karir pasti berkembang, dan keluarga otomatis akan jauh dari masalah. Tetapi sesungguhnya, mengikuti Yesus itu tidak mudah, memerlukan kesabaran, kesabaran untuk menghadapi resiko/konsekuensi iman tersebut.

TUHAN MEMBERKATI.....

Setiap tindakan dalam hidup akan selalu mempunyai resiko, baik maupun tidak baik.
Tapi berbahagialah orang yang tetap bertahan dan setia, apapun resiko yang dihadapinya . (Samuel Sadusi)
  
"BAPA ajarku pahami rencana mulia ...
BAPA inginkan aku menjadi rancangan semula ...
Walaupun itu mustahil dengan kekuatanku ...
Tapi tiada yang mustahil apapun bagiMU."


~ YESUS MEMBERKATI USAHA KITA ~
(Baca Firman TUHAN: Yohanes 21:1-14)

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus beberapa kali menampakkan diri kepada para murid. Baik secara individu, beberapa orang, laki-laki, perempuan, kepada yang ragu, atau yang pernah menyangkal-Nya. Yesus yang bangkit dari kematian tidak hanya memberikan jaminan keselamatan yang rohani saja, tetapi juga kesejahteraan dalam kehidupan nyata. Bahkan yang menarik, Yesus juga menampakkan diri kepada para murid yang sedang sibuk menjala ikan di danau Tiberias. Penampakan Yesus di danau Tiberias adalah penampakan yang ketiga kalinya yang dicatat oleh Yohanes. Murid-murid Yesus yaitu Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael, dua anak-anak Zebedeus (Yakobus dan Yohanes) dan dua orang muridNya yang lain sedang baraktivitas, sibuk menjala ikan di danau Tiberias.

Semalam suntuk mereka menjala, namun seekor ikan pun tidak mereka peroleh. Dalam perasaan yang berkecamuk antara lelah, mengantuk dan kecewa, Yesus datang menghampiri mereka. Yesus bertanya: “Apa kalian mendapat hasil tangkapan?” Yesus mengetahui masalah mereka dan membantu mereka. Tebarkan jalamu di sisi kanan perahu, demikian perintah Yesus. Perintah ini membutuhkan respon. Murid-murid menuruti perintah itu. Benar apa yang Yesus katakan, jala mereka penuh dengan ikan. Sungguh berbahagianya para murid karena menuruti perkataan Yesus. Murid-murid mau dipimpin oleh Yesus, akhirnya dengan ketaatan yang ditunjukkan oleh murid-murid, akhirnya membawa perubahan yang luar biasa. Ikan yang tadinya tidak mereka dapatkan seekorpun akhirnya mereka dapatkan dengan banyak (153 ekor).

Ketekunan para murid dalam bekerja keras perlu ditiru. Sekalipun tidak berhasil menangkap apa-apa, tetapi mereka bekerja sepanjang malam. Dalam pekerjaan/ pelayanan, kita juga harus demikian. Janganlah kita mengharapkan apa-apa dari Tuhan, jika kita tidak ulet dan tekun dalam kehidupan, baik dalam pelayanan mau pun dalam berjuang untuk kesejahteraan kehidupan. Tuhan tentu tidak memberkati orang yang malas, toh pun doanya siang dan malam dipanjatkan! Calvin sendiri pernah berkata: “if we wish to allow an opportunity for the blessing of God to descend on us, we ought constantly to expect it; for nothing can be more unreasonable than to withdraw the hand immediately from labour, if it do not give promise of success” (= jika kita ingin mengijinkan suatu kesempatan bagi berkat Allah untuk turun kepada kita, kita harus terus menerus mengharapkannya; karena tidak ada apapun yang lebih tidak masuk akal dari pada segera menahan tangan dari pekerjaan, jika itu tidak menjanjikan kesuksesan)

Kita diajak oleh Firman ini untuk senantiasa mau taat dipimpin dan diarahkan oleh Yesus Kristus yang telah bangkit itu. Dia akan memberikan berkat yang luar biasa. Kebangkitan Yesus menjadi kekuatan serta pengharapan bagi orang percaya bahwa yang bertekun dalam iman percaya sambil berjuang secara tekun dalam aktivitas nyata.Yesus yang telah bangkit hadir dimana-mana dan kapan saja, sebab Dia adalah Tuhan yang berkuasa atas ruang dan waktu. Dia tidak hanya berkuasa memberikan jaminan keselamatan masuk sorga, tetapi juga kuasa berkat di segenap kebutuhan hidup kita. Bertekunlah di dalam iman, sambil ulet dalam berjuang di kehidupan. Kesibukan yang bermanfaat dan menjadi berkat bagi keluarga, sesama, umat/masyarakat, dan untuk kemuliaan nama Tuhan, niscaya Tuhan akan memberkati dengan limpahnya. AMIN!